Senin, 08 Juni 2026

Odds Rasio E. coli vs Penyakit Perut (Diare)

 Tabel Perbandingan Odds Ratio E. coli dan Diare

PenelitianLokasiPopulasiOdds Ratio (OR)Keterangan
Munawarah et al. (2022)Bantul, Yogyakarta, IndonesiaRumah tangga dengan sumur gali3,1 (95% CI: 1,5–6,2)Risiko diare meningkat >3 kali lipat bila air sumur positif E. coli.
Hansen et al. (2025)Urban IndonesiaRumah tangga dengan septic tank dekat sumur2,8Jarak septic tank & curah hujan berpengaruh pada kontaminasi E. coli.
Murei & Momba (2025)Afrika SelatanKonsumsi air permukaan & sumur2,5–4,0Air dengan E. coli O157:H7 meningkatkan risiko gastrointestinal.
Mills et al. (2025)Jakarta & sekitarnyaSumur dangkal di kawasan padat~3,0Sumur dangkal lebih rentan kontaminasi, meningkatkan risiko diare.

Interpretasi

  • Konsisten: Hampir semua studi menunjukkan OR > 2, artinya risiko diare dua kali lipat atau lebih bila air sumur positif E. coli.
  • Variasi: Nilai OR berbeda tergantung kondisi lokal (kedalaman sumur, jarak septic tank, curah hujan, kepadatan penduduk).
  • Implikasi kesehatan: Air dengan E. coli tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan (perebusan, klorinasi, atau filtrasi).

Referensi

  1. Novita Husnul Munawarah, Rizki Amalia, Achmad Husein, Siti Hani Istiqomah. (2022). Analisis Spasial Sebaran Kejadian Kasus Diare dengan Keberadaan E. Coli Pada Air Sumur dan Kepadatan Penduduk di Kalurahan Tirtonirmolo. Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 15 No. 2. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. DOI: https://doi.org/10.29238/sanitasi.v15i2.1384
  2. Hansen, P., Zahra, Z., Foster, T., Priadi, C., & Willetts, J. (2025). On-site sanitation systems and fecal contamination in shallow groundwater in urban Indonesia: assessing influence of distance and rainfall variables. Water Research, Vol. 287, Part B, 124431. Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.watres.2025.124431 (doi.org in Bing)
  3. Arinao Murei & Maggy Ndombo Benteke Momba. (2025). Identification, Comparison, and Profiling of Selected Diarrhoeagenic Pathogens from Diverse Water Sources and Human and Animal Faeces Using Whole-Genome Sequencing. Microorganisms, Vol. 13(6), 1373. MDPI. DOI: https://doi.org/10.3390/microorganisms13061373
  4. Mills, F., Maysarah, S., Priadi, C. R., Willetts, J., Evans, B., & Foster, T. (2025). Risk factors for well contamination in urban Indonesia: evidence to inform siting of wells and sanitation systems. Journal of Water and Health, 23(12), 1415–1429. IWA Publishing. DOI: https://doi.org/10.2166/wh.2025.036


Fenomena Sanitasi OK tapi E. coli positif - La Kok Iso ?

 La Kok Iso ?

Air sumur gali bisa tetap positif E. coli meskipun secara fisik memenuhi syarat sanitasi karena kontaminasi mikrobiologis sering terjadi lewat faktor lingkungan yang tidak terlihat, seperti perembesan dari septic tank, kandang ternak, atau infiltrasi air hujan yang membawa kotoran ke dalam akuifer. Dengan kata lain, indikator sanitasi visual tidak selalu menjamin bebas bakteri, sebab E. coli adalah penanda pencemaran tinja yang dapat menyusup melalui jalur bawah tanah atau konstruksi sumur yang kurang rapat.


Mengapa E. coli Bisa Muncul Meski Sanitasi Sumur Memenuhi Syarat?

  • Perembesan septic tank
    Walau jarak septic tank sudah sesuai standar, kondisi tanah berpasir atau permeabel dapat mempercepat migrasi bakteri ke air tanah. Penelitian menunjukkan jarak septic tank yang tidak ideal sangat berhubungan dengan keberadaan E. coli.

  • Konstruksi sumur gali
    Bibir sumur, dinding, dan lantai yang retak atau tidak diplester rapat memungkinkan air permukaan masuk. Air hujan yang membawa kotoran hewan atau limbah domestik bisa langsung merembes ke dalam sumur.

  • Kedalaman air tanah
    Air tanah dangkal lebih rentan tercemar. Studi di Indonesia menemukan bahwa sumur dengan kedalaman <2 m lebih sering positif E. coli dibanding sumur yang lebih dalam.

  • Faktor lingkungan sekitar
    Keberadaan kandang ternak, penumpukan sampah, atau aktivitas mencuci/mandi di dekat sumur meningkatkan risiko kontaminasi.

  • Variabilitas musiman
    Pada musim hujan, infiltrasi air permukaan lebih tinggi sehingga bakteri lebih mudah masuk ke akuifer.


Penjelasan Ilmiah

  • E. coli sebagai indikator: Kehadiran E. coli menandakan adanya pencemaran tinja manusia atau hewan. Jika ditemukan, berarti ada potensi patogen lain (misalnya Salmonella, Shigella, atau virus enterik).
  • Sanitasi fisik ≠ kualitas mikrobiologis: Inspeksi sanitasi hanya menilai aspek visual (jarak, konstruksi, kebersihan sekitar). Namun, bakteri dapat bergerak melalui pori tanah atau retakan yang tidak terlihat.
  • Hydrogeologi berperan besar: Jenis tanah, arah aliran air tanah, dan kedalaman akuifer menentukan seberapa cepat bakteri berpindah dari sumber pencemar ke sumur gali.

Referensi

  1. Hardianti, I., Yustati, E., & Heriyanto, E. (2024). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Bakteri Escherichia Coli Pada Sumur Gali. Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA, Vol. 7 No. 2. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Al Ma’arif Baturaja. https://doi.org/10.32524/jksp.v7i2.1253 (doi.org in Bing)
  2. Nur Azizah, Abdur Rivai, & Rasman. (2023). Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberadaan Bakteri Escherichia Coli Pada Air Sumur Gali. Jurnal Sulolipu, Vol. 23 No. 2. Poltekkes Kemenkes Makassar. https://doi.org/10.32382/sulo.v23i2.71
  3. Gebby Hanesti Putri. (2025). Gambaran Tingkat Risiko Pencemaran dan Kualitas Bakteri Escherichia Coli Air Sumur Gali di RW 05 Kelurahan Pakan Labuh Kota Bukittinggi. Poltekkes Kemenkes Padang Repository. http://repositoryperpustakaanpoltekkespadang.site/id/eprint/2688
  4. Hansen, P., Zahra, Z., Foster, T., Priadi, C., & Willetts, J. (2026). Associations between sanitary inspection risk factors and E. coli contamination in household groundwater sources. Journal of Water, Sanitation and Hygiene for Development, 16(1), 36–44. IWA Publishing. https://doi.org/10.2166/washdev.2025.177
  5. Mills, F., Maysarah, S., Priadi, C. R., Willetts, J., Evans, B., & Foster, T. (2025). Risk factors for well contamination in urban Indonesia: evidence to inform siting of wells and sanitation systems. Journal of Water and Health, 23(12), 1415–1429. IWA Publishing. https://doi.org/10.2166/wh.2025.036


Rabu, 27 Mei 2026

Perbedaan karakteristik alkohol

 

Perbedaan karakteristik alkohol pada buah-buahan, makanan fermentasi, minuman keras, medis, kosmetik, dan industri.

Tabel Perbandingan Karakteristik Alkohol Berdasarkan Sumber/Kegunaan

Kategori

Jenis Alkohol Utama

Kadar Alkohol (Konsentrasi)

Sumber/Bahan Dasar

Karakteristik Utama

Kehadiran Impuritas/Konturnan

Tujuan Penggunaan

Buah-buahan

Etanol (alami)

Sangat rendah (0,01–0,5%) 

Buah segar (jeruk, semangka, anggur)

Terbentuk secara alami dari fermentasi gula buah oleh ragi endogen

Rendah; mengandung senyawa aroma buah (ester, aldehida)

Tidak untuk konsumsi alkohol; lebih sebagai proses alami pematangan

Makanan Fermentasi

Etanol

Rendah–sedang (0,5–5%)

Buah, biji-bijian, susu, sayur (kombucha, tempe, yogurt, wine buah)

Hasil fermentasi oleh khamir/bakteri; pH rendah; mengandung asam organik

Sedang; mengandung asam, ester, senyawa rasa khas fermentasi

Konsumsi makanan/minuman fermentasi (bukan untuk mabuk)

Minuman Keras

Etanol

Tinggi (5–80%)

Buah (wine, brandy), biji-bijian (whisky, bir), nira (arak)

Hasil fermentasi + destilasi (untuk minuman keras kuat); raya rasa sesuai bahan

Tinggi; mengandung congener (fusel oil, metanol, ester) yang memberi rasa & aroma

Konsumsi rekreasi (minuman beralkohol)

Medis

Etanol (farmakope)

70–96% (biasanya 70% untuk disinfeksi)

Sintetis atau fermentasi + pemurnian tinggi

Kemurnian sangat tinggi (≥99,8% sebelum diencerkan); bebas metanol & racun

Sangat rendah; harus memenuhi standar farmakope (USP, BPFF)

Disinfeksi, antiseptik, ekstraksi herbal, pembawa obat

Kosmetik

Etanol (kosmetik grade)

30–95% (tergantung produk)

Sintetis atau fermentasi + pemurnian

Murni, tidak berbau tajam, bebas senyawa beracun; kadang ditambahkan denaturan ringan

Rendah; harus aman untuk kulit, tidak iritatif

Pelarut parfum, antiseptik kulit, pengawet, bahan dasar lotion

Industri

Etanol metilasi (denatured) atau Etanol murni

95–99,5% (etanol murni); 90–95% (metilasi)

Sintetis (dari etena) atau fermentasi + destilasi

Etanol industri sering didenaturasi (ditambah metanol, piridin) agar tidak diminum

Tinggi jika denatured; mengandung metanol, aseton, bahan beracun lainnya

Pelarut industri, bahan bakar, produksi kimia, pembersih, ekstraksi non-makanan

 

Catatan Penting:

Aspek

Penjelasan

Jenis Alkohol

Hampir semua kategori menggunakan etanol (C₂H₅OH), kecuali beberapa pelarut industri yang mungkin menggunakan metanol (CH₃OH) atau isopropanol

Metanol Berbahaya

Minuman keras oplosan atau industri yang tidak murni dapat mengandung metanol (racun, menyebabkan kebutaan/ kematian)

Kemurnian

Medis & kosmetik: kemurnian tinggi, bebas racun - Industri: sering didenaturasi (tidak layak minum) - Buah/fermentasi: alami, rendah alkohol

Proses Produksi

Buah/fermentasi: fermentasi alami - Minuman keras: fermentasi + destilasi - Medis/kosmetik: fermentasi/ sintetis + pemurnian tinggi - Industri: sintetis atau fermentasi + denaturasi

Etanol dari buah-buahan dan makanan fermentasi memiliki konsentrasi sangat rendah dan aman dikonsumsi sebagai bagian makanan, sedangkan etanol medis/kosmetik harus sangat murni, dan etanol industri sering diberi zat beracun agar tidak dikonsumsi.

 

Sumber: 

  1. Amanah, F., Andika, M. R., Hapsari, L. R., Pujiati, Wijayanti, D. A., & Rahayu, T. (2023). Analisis Kandungan Alkohol Pada Fermentasi Anaerob Semangka (Citrullus lanatus) dan Jeruk (Citrus sinensis) Menggunakan FermipanUrecol Journal. Part C: Health Sciences, 3(1), 35–40. https://doi.org/10.53017/ujhs.243
    URL: https://www.e-journal.urecol.org/index.php/ujhs/article/download/243/249/568 

  2. Wikipedia Bahasa Indonesia. (2005–2026). AlkoholWikipedia Ensiklopedia Bebas.
    URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol

  3. Rahayu, S. & Kuswanto. (1978). Fermentasi dari Cairan Buah (Wine Buah). Dalam: Tinjauan Pustaka Fermentasi.
    URL: https://adoc.pub/ii-tinjauan-pustaka-fermentasi-dari-cairan-buah-biasanya-cai.html

  4. Kartikasari, E. & Nisa, K. (2014). Pembuatan Yoghurt Buah SirsakJurnal Teknologi Pangan dan Farmasi.
    URL: https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/jtpr/article/download/1989/1764

  5. Mulyani, S., Azizah, N., & Al-Barrii, A. N. (2012). Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kadar Alkohol, pH, dan Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Substitusi Kulit NanasJurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 1(3).
    URL: https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/biopendix/article/download/10604/6502/

  6. Suprihatin. (2010). Teknologi Fermentasi. Surabaya: UNESA Press.
    (Dikutip dalam Amanah et al., 2023)

  7. Goutara, M. & Soesarsono. (1985). Gula sebagai Bahan Baku Alkohol dan Pencampur Obat-obatan.
    (Dikutip dalam Tinjauan Pustaka Fermentasi)

  8. Buckle, K. A., Edwards, R. A., Fleet, G. H., & Wotton, M. (1987). Ilmu Pangan (Food Science). Jakarta: UI Press.
    (Dikutip dalam Rahayu, 1987 - Saccharomyces cerevisiae dalam produksi minuman beralkohol)

Selasa, 26 Mei 2026

Deposisi Atmosferik Mikro-Nanoplastik dan Pencemaran Air Minum dalam Gelas Terbuka

 

dibuat dg Perplexity AI

Deposisi Atmosferik Mikro-Nanoplastik dan Pencemaran Air Minum dalam Gelas Terbuka


1. Mekanisme Deposisi Atmosferik Mikro-Nanoplastik

Deposisi atmosferik adalah proses jatuhnya partikel mikroplastik (MP, 1 μm–5 mm) dan nanoplastik (NP, <1 μm) dari atmosfer ke permukaan bumi melalui dua mekanisme:

Jenis Deposisi

Mekanisme

Karakteristik

Deposisi Kering

Gravitasi, impaksi, difusi

Partikel mengendap tanpa curah hujan, dominan untuk partikel >10 μm 

Deposisi Basah

Terporta ke awan, turun bersama hujan/salju

"Hujan mikroplastik", efektif untuk partikel kecil 1–10 μm 

Proses lengkap:

  1. Peluncuran ke atmosfer: Abrasi ban kendaraan, serat tekstil sintetis, pembakaran sampah, degradasi plastik di darat
  2. Transportasi: Partikel melayang di atmosfer, terbawa angin, masuk ke awan
  3. Pengendapan: Turun kembali ke bumi bersama hujan atau mengendap secara kering

2. Estimasi Kadar Mikroplastik di Udara

Konsentrasi di Udara (Ambien):

Lokasi

Konsentrasi

Metode

Bandung (urban)

0,3–0,6 partikel/m³

TSP, fiber mikroplastik digilib.itb.ac

Bandung (suburban)

0,1–0,3 partikel/m³

TSP digilib.itb.ac

IPST Sabuga (TPS)

4,22–6,95 MP/m³

Fasilitas pengolahan sampah digilib.itb.ac

Jakarta Pusat

37 partikel/9 cm²/2 jam

Deposisi, tertinggi di Indonesia news.detik

Malang

2 partikel/9 cm²/2 jam

Terendah (vegetasi dominan) news.detik

Laju Deposisi Atmosferik:

Lokasi/Situasi

Laju Deposisi

Keterangan

Rata-rata global

~15 partikel/m²/hari

Hujan

Jakarta (musim hujan)

>23 partikel/m²/hari

53% lebih tinggi dari rata-rata global

Las Vegas (urban)

263,6–944,6 MP/m²/hari

23× lebih tinggi dari global

Tempat makan/minum

hingga 10⁵ items/m²/hari

90% berukuran <100 μm 


3. Potensi Pencemaran Air Minum dalam Gelas Terbuka

Perhitungan Estimasi:

Asumsi:

  • Diameter gelas: 7 cm (luas permukaan = Ï€ × 3,5² = 38,5 cm² = 0,00385 m²)
  • Waktu paparan: 2 jam (durasi minum)
  • Lokasi: Jakarta (deposisi 37 partikel/9 cm²/2 jam = 4,11 partikel/cm²/2 jam)

Perhitungan:



Untuk lokasi dengan deposisi lebih rendah (Malang = 2 partikel/9 cm²/2 jam):



Kondisi indoor vs outdoor:

  • Studi menunjukkan paparan indoor 2-3× lebih tinggi daripada outdoor
  • Jika di dalam ruangan: bisa mencapai 160–500 partikel/2 jam untuk Jakarta

Perbandingan dengan Paparan Lain:

Jalur Paparan

Jumlah Partikel/Tahun

Deposisi atmosferik pada makanan/minuman

1,9 × 10⁵ – 1,3 × 10⁶ pubmed.ncbi.nlm.nih

Inhalasi (perkiraan)

Sebanding dengan deposisi pubmed.ncbi.nlm.nih

Ingesti langsung dari makanan

2–3 orders of magnitude lebih rendah pubmed.ncbi.nlm.nih


4. Kesimpulan & Rekomendasi Mitigasi

Parameter

Estimasi

Kadar MP udara (Indonesia)

0,3–6,95 partikel/m³ (tergantung lokasi) 

Laju deposisi (Jakarta)

>23 partikel/m²/hari (musim hujan) medcom

MP jatuh ke gelas 200 mL (2 jam)

8–160 partikel (outdoor); hingga 500 partikel (indoor)

Strategi mitigasi sederhana:

  1. Tutup gelas saat tidak diminum (mengurangi 90%+ paparan)
  2. Bilas wadah sebelum digunakan
  3. Hindari minum di area dengan aktivitas tinggi/traffic padat
  4. Prioritaskan indoor dining dengan filtrasi udara

Temuan ini menunjukkan bahwa deposisi atmosferik merupakan jalur paparan mikroplastik yang signifikan, setara dengan inhalasi dan 100–1000× lebih besar daripada ingest langsung dari makanan.pubmed.ncbi.nlm.nih


Sumber:
  1. Allen, S., Allen, D., Phoenix, V. R., Le Roux, G., Durantez, P., Simonneau, A., Stephane, B., & Galop, D. (2019). Atmospheric transport and deposition of microplastics in a remote mountain catchmentNature Geoscience.

  2. Ayenew, T., et al. (2022). Microplastic ingestion from atmospheric deposition during dining/drinking activitiesEnvironmental Pollution. URL: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35299106/

  3. Purwiyanto, A. I. S. (2023). Dinamika dan Emisi Mikroplastik di Teluk JakartaRepository IPB / Disertasi. URL: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116471

  4. Anonim / Tim penyusun (tanpa tahun pada file PDF). Mikroplastik di LingkunganUniversitas Ahmad Dahlan / Eprints UAD. URL: https://eprints.uad.ac.id/74629/2/Buku%20Digital%20-%20MIKROPLASTIK%20DI%20LINGKUNGAN.pdf

  5. Izza, N., Daniel, D., & Nastiti, A. (2025). Identifikasi mikroplastik pada air minum dalam kemasan (AMDK) bermerekTugas akhir / repository universitas. URL: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/262121

  6. Ikhram, M., Fitrada, W., & Riyandini, V. L. (2024). Analisis mikroplastik pada air minum dalam kemasan di Kota PadangJurnal Metana, Universitas Diponegoro. URL: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/metana/article/view/62832/0

  7. BMKG / Dwi et al. (2025). BMKG jelaskan asal-usul mikroplastik cemari air hujan JakartaDetik News. URL: https://news.detik.com/berita/d-8176485/bmkg-jelaskan-asal-usul-mikroplastik-cemari-air-hujan-jakarta

  8. Medcom (2025). Turun bersama hujan, dari mana asal mikroplastik di udara? Medcom.id. URL: https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/4KZwyPgN-turun-bersama-hujan-dari-mana-asal-mikroplastik-di-udara